Uncategorized

Lebaran Asyik Dengan Teman Kepompong

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar … Laaillaa hailallahuallahhu Akbar ..

Suara takbir yang merupakan pertanda bahwa hari kemenangan atas puasa yang telah kita jalani selama satu bulan akan segera datang. Pada waktu ini pula saya habiskan bersama teman-teman tercinta di kampung halaman saya, Malang, Jawa Timur. Ketika saya mendengar kata lebaran, salah satu hal yang terlintas di benak saya adalah, tugas menjadi amil zakat (panitia zakat). Kegiatan ini pula yang menjadikan saya harus kembali ke kampung halaman setiap tahun. Terdengar tidak menyenangkan? Justru sebaliknya.

Sejak saya duduk di bangku SMP, menjadi salah satu panitia zakat di Masjid Subulussalam ketika liburan telah menjadi rutinitas tahunan saya. Aktivitas saya ini tidak dapat dikatakan melelahkan atau membosankan karena dikerjakan bersama teman-teman saya yang  merupakan teman dekat saya sejak masih di bangku SD, atau biasa juga disebut teman kepompong. Selama menimbang dan membungkus beras, membersihkan peralatan, serta membagikan kepada mereka yang berhak, selalu di temani oleh gurauan di antara kami. Ledekan mengenai pasangan atau pacar sering di lontarkan, sehingga tidak jarang hal tersebut membuat kami terlihat gaduh dan mengundang pandangan tidak enak dari bapak-bapak sepuh lain yang juga hadir di masjid untuk ikut mengumandangkan takbir. Bagaimana tidak, pertemuan di antara kami hanya terjadi satu tahun sekali, sehingga kami mengaggap wajar apabila kami bertingkah seperti anak-anak dan kegiatan panitia zakat ini juga menjadi wadah tersendiri bagi kami untuk melakukan reuni hehehe. Tidak lupa pula, kami melakukan selfie dengan pose atau muka yang cukup gila yang semakin menjadikan kegiatan ini tidak pernah membosankan. Dengan berakhirnya pembagian zakat, maka selesai sudah tugas kami. Lalu di esok hari, saya melaksanakan sholat idul fitri di masjid yang sama dengan ibu tercinta.

16-07-05-20-45-14-164_photo[1].jpg

16-07-05-22-25-15-153_photo[1]

Aktivitas yang menjadi tradisi setelah melaksanakan sholat idul fitri adalah berkeliling ke rumah tetangga. Kegiatan berkeliling ke rumah tetangga ini bertujuan untuk memohon maaf kepada orang-orang yang cukup sering berinteraksi dengan kita. Umumnya, kami akan membuat rombongan yang terdiri dari dua atau tiga keluarga, kemudian beramai-ramai mengunjungi rumah-rumah. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah ketika saya mengunjungi rumah ustad yang merupakan guru mengaji saya sejak kecil, Pak Hidayat, dan rumah nenek. Di rumah Pak Hidayat, saya selalu menemukan makanan lebaran yang sangat khas, seperti opor ayam, lontong sayur, dan pastinya ketupat. Hal yang membuatnya berbeda dibandingkan masakan lain adalah rasanya yang khas dan mantap. Sedangkan di rumah nenek yang tidak terletak jauh dari rumah, umumnya akan menghidangkan pecel malang yang juga menjadi andalannya ketika hari lebaran tiba. Bumbu serta rempeyek yang di masak sendiri olehnya, menjadikan sajian pecel tersebut menjadi makanan yang selalu di tunggu pada waktu lebaran. ❤

 

Kamu mahasiswa yang masih punya waktu liburan panjang atau umum yang masih bingung mau ngapain di akhir pekan tapi gak mau buang uang? Yuk hadiri:

WhatsApp-Image-20160721.jpeg

  • Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
  • Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
  • Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusa

Selain gratis, kamu bisa menemukan banyak hal disini. Mulai dari tausiyah, talkshow, fashion show yang bakal kece abis, berbagai lomba, bahkan baazar. Yuk tunggu apalagi 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s