Great Dream

best-resorts-bali

Maraknya berbagai kebudayaan baru akibat globalisasi dari negara lain, seperti Amerika, Korea, dan Jepang, tanpa kita sadari dapat mengubah gaya hidup dan perilaku seseorang. Pada dasarnya, hal yang paling dapat kita lihat adalah terjadinya perubahan perilaku masyarakat karena adanya internet. Dahulu kala, masyarakat Indonesia terkenal ramah dan selalu menjunjung tinggi nilai gotong royong. Namun sekarang, nilai-nilai tersebut perlahan-lahan mulai ditinggalkan karena adanya era digital. Masyarakat dahulu saling mengenal satu sama lain karena adanya interaksi komunikasi langsung tanpa adanya perantara, namun sekarang tidak jarang kita temukan bahwa satu orang dengan tetangga sebelahnya bahkan tidak saling mengenal. Selain itu, dengan adanya perangkat digital, seperti handphone juga berkontribusi dalam mengubah perilaku masyarakat. Saat ini orang akan lebih memilih untuk menetap di rumah dan asik bermain gadget sendiri daripada keluar rumah untuk bertemu dan mengobrol dengan tetangga. Hal ini sangat berbeda dengan dasar negara yang telah lama di anut oleh Indonesia, yakni Pancasila yang salah satunya berbunyi ‘Persatuan Indonesia’. Melihat adanya permasalahan yang kompleks ini, sempat terbesit dibenak saya untuk mengolah salah satu pulau milik Indonesia. Hal ini didukung juga dengan data statisik yang mengatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia yang belum berpenduduk hampir berjumlah 9000 pulau.

Apa hubungannya dengan masalah yang saya paparkan di atas? Pertama-tama, saya mengambil ide untuk mengolah pulau karena saya akan mengolahnya menjadi ‘pulau Indonesia asli’ seperti dahulu. Artinya apa, orang-orang yang akan meninggali pulau tersebut hanyalah orang-orang yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya. Sehingga, pulau itu akan dihuni oleh manusia terpilih yang nantinya akan membentuk masyarakat madani. Dikutip dari Wikipedia, masyarakat Madani pada prinsipnya memiliki multimakna, yaitu masyarakat yang demokratis, menjunjung tinggi etika dan moralitas, transparan, toleransi, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi, konsisten memiliki bandingan, mampu berkoordinasi, sederhana, sinkron, integral, mengakui, emansipasi, dan hak asasi, namun yang paling dominan adalah masyarakat yang demokratis. Tentu saja dengan begitu, maka pulau yang saya olah dapat menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia di pulau lain, bahwa pada dasarnya, nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para leluhur merupakan kunci keberhasilan dalam menjalani kehidupan ini. Dengan gotong royong yang kuat, maka sebuah pekerjaan, bahkan membangun rumah, dapat terlaksana lebih cepat. Dengan saling peduli satu sama lain, kita memaknai bahwa sesama makhluk sosial, kita tidak akan dapat hidup sendiri, bahkan akan ada masanya kita akan membutuhkan orang lain. Lebih spesifik lagi, di dalam pulau itu, masyarakat akan belajar mengolah segalanya dari nol.

Pembangunan awal pulau itu akan dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama dengan berbekal berbagai keperluan yang diangkut menggunakan kapal laut. Selain itu, menanam berbagai jenis tanaman dan sayuran akan menjadi pekerjaan sehari-hari  bagi masyarakat yang akan menghuni pulau tersebut. Hal ini secara teknis memberikan beberapa keuntungan tersendiri, yakni jenis pupuk yang digunakan akan bergantung pada kita, sehingga kita akan memahami betul kandungan apa yang ada di dalam sayur-sayur tersebut, selain itu dengan berkebun maka tubuh kita akan senantiasa bergerak, sehingga tubuh menjadi sehat dan kebal terhadap penyakit. Dibandingkan dengan pekerja kantoran yang setiap harinya duduk menatap laptop setiap hari, berkebun setiap hari tentulah kegiatan yang sangat bermanfaat. Hal ini juga identik dengan berternak. Di samping itu, dengan jarak yang relatif jauh, tidak berarti kita akan menutup segala jenis komunikasi. Sebagai pengelola pulau, saya juga ingin memastikan warga saya untuk mengetahui apa yang terjadi di luar sana dengan memberikan akses internet yang memadai. Sehingga pulau ini tidak dapat dikatakan sebagai pulau yang terisolasi dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Selain itu, untuk memastikan kompetensi masyarakat terus berkembang, saya juga akan menyediakan berbagai fasilitas berupa sekolah, laboratorium, transportasi yang mudah menuju pulau lain, dan fasilitas penunjang yang dibutuhkan lainnnya.

 

Dengan banyaknya sisi positif dari ide pulau ini, namun ada juga beberapa sisi negatifnya. Pertama, pembangunan pulau bukanlah proyek yang kecil, sehingga akan dibutuhkan biaya yang cukup besar.  Kedua, perencanaan penataan kota yang tidak sempurna dan matang akan menyebabkan kegagalan dalam membangun pulau kecil ini dan dapat berakhir menjadi pulau-pulau kecillainnya yang diolah oleh pemerintah. Ketiga, seleksi terhadap masyarakat yang akan menghuni pulau tersebut mungkin akan relatif sulit dilakukan karena untuk mencari manusia yang benar-benar madani bukanlah hal yang mudah. Selain itu, akan banyak dari mereka yang mungkin akan memikirkan lebih baik tinggal daripada pergi karena fasilitas yang sudah legkap dan sangat mudah dijangkau, seperti misalnya makanan, fasilitas hiburan seperti bioskop, festival tahunan, dan lain sebagainya.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa perencanaan pengelolaan sebuah pulau sangatlah membutuhkan perencanaan yang matang agar tujuan awal dari proyek tersebut dapat dicapai dan tidak menimbulkana danya wasting time, money, and efford. Namun saya percaya bahwa mimpi saya ini akan terwujud suatu saat nanti. Dengan usaha yang keras dan tekun, serta dibarengi dengan doa yang ikhlas, sebuah mimpi bukan tidak mungkin menjadi sebuah kenyataan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s